Kasus Kecerdasan Emosi

            Kasus ini berdasarkan pengalaman saya sendiri.Waktu kelas tiga SMA , saya memiliki seorang teman dekat yang memiliki emosi kurang terkendali.Suatu hari aku bercanda sama dia tapi dia malah tersinggung dan marah- marah sama aku.Dia tersinggung dan menanggapinya serius.Padahal aku benar cuma mau bercanda dan tidak ada maksud tertentu.Aku jadi merasa bersalah sendiri dan aku juga nyesal bercandain dia. Setelah  kejadian itu,dia tidak mau ngomong sama aku da menghindar dari aku.Akhirnya aku minta maaf sama dia, tapi dia tetap aja diamin aku dan tidak ngomong-ngomong apa-apa. Malahan dia gak mau ngeliat muka aku.Aku jadi bingung ,emangnya aku keterlaluan banget . Aku mikir, nih orang kenapa emosi banget sih, gak bisa apa bedain bercanda sama yang beneran.Akhirnya aku juga capek dan males liat kelakuannya yang terlalu beerlebihan banget, padahal dia teman baik aku. Besoknya aku juga diamin dia dan aku juga gak mau lagi minta maaf sama dia. Kami saling tidak bicara satu sama lain.Orang lain pun ikutan bingung melihat kami. Dan itu berlarut-larut sampai aku tamat SMA. Kami tetap tidak baikan. Namun semua berubah ,ketika aku diterima kuliah di Universitas Padjajaran Fakultas Keperawatan,Bandung.Dia minta maaf sama aku karena udah diamin akudan gak mau maafin aku dan membiarkan masalahnya berlarut-larut kayak gini.Dia juga nangis sama aku karena aku keterima kuliah di bandung, dan dia takut kalau aku gak bisa lagi ketemu sama dia.Aku juga minta maaf sama dia karena ikut-ikutan diamin dia.Habisnya aku kesal dan gak bisa mikir lagi.Kami berdua saling menangisi kesalahan masing-masing.Sekarang aku berusaha untuk kedepannya berubah menjadi seorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang bagus.

Kecerdasan Emosi

  

index

Kecerdasan adalah  kemampuan kognitif pada suatu individu untuk memberikan alasan yang baik , belajar dari pengalaman , menghadapi tuntutan hidup sehari-hari (Lahey,2007). Gardner  menjelaskan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk menciptakan produk yang efektif atau penawaran jasa yang bernilai dalam budaya dan sekelompok kemampuan yang memungkinkan manusia untuk menyeleseikan masalah dalam kehidupannya serta menciptakan solusi untuk masalah tersebut, yang melibatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Sedangkan Chaplin(2009) mendefinisikan kecerdasan dalam tiga pengertian, yaitu,

  • Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efeektif
  • Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif
  • Kemampuan memahami pertalian dan belajar dengan cepat

Dari tiga definisi diatas dapat dikemukakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan kognitif individu dalam menghadapi, menyesuaikan diri terhadap terhadap situasi baru, dan dalam hal nya berkaitan dangan inovasi. Hal yang berkaitan dengan definisi emosi dijelaskan oleh Chaplin(2009) dirumuskan sebagai satu keadaan yamg terangsang organisme. Mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Menurut Goleman(1999) emosi merupakan suatu perasaan yang berkaitan dengan amarah,kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu. Dari penjelasan diatas, emosi merupakan suatu tindakan, ketidakstabilan pikiran, perasaan dan nafsu yang tidak terkendali. Suatu emosi yang kuat mencakup beberapa komponen umum. Daftar komponen tersebut mencakup :    

  • Respon tubuh internal, terutama yang melibatkan sistem saraf otonomik.jika marah, misalnya,tubuh kadang-kadang gemetar dan suara menjadi tinggi.
  • Kumpulan pikiran dan keyakinan yang menyertai emosi, dan hal itu terjadi secara otomatis.
  • Ekspresi wajah
  • Reaksi terhadap amosi

Jika kita mengalami suatu emosi yang kuat, seperti rasa takut atau marah, kita mungkin merasakan sejumlah perubahan pada tubuh, misalnya tekanan darah dan kecepatan denyut jantung meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat,pupil mata mengalami dilatasi, keringat meningkat sementara sekresi saliva dan muskus menurun, kadar gula darah meningkat untuk memberikan lebih banyak energi, darah membeku lebih cepat untuk persiapan kalau terjadi luka dan rambut di kulit menjadi tegak sehingga menyebabkan merinding. Setelah membahas apa itu kecerdasan dan apa itu emosi, maka selanjutnya apa itu kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (bahasa Inggris: emotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang . Berikut defenisi kecerdasan emosi menurut para ahli .

dsrg

Salovey dan Mayer pada tahun 1997 (dalam Morgan, 2003) mendefinisikan bahwa kecerdasan emosi melibatkan kemampuan untuk mengetahui, menilai dan mengeksperikan emosi secara akurat; kemampuan untuk menggunakan emosi.

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Menurut Harmoko (2005) Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.

Sedangkan menurut Dio (2003), dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan disini bisa meliputi atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik antar pribadi.

Berbeda dengan pemahaman negatif masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaiknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif. Didukung pendapat yang dikemukakan oleh Cooper (1999) bahwa kecerdasan emosi memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar, selanjutnya mampu menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Sebaliknya bila individu tida memiliki kematangan emosi maka akan sulit mengelola emosinya secara baik dalam bekerja. Disamping itu individu akan menjadi pekerja yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan, tidak mampu bersikap terbuka dalam menerima perbedaan pendapat , kurang gigih dan sulit berkembang.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

nhj

Dari mana emosi itu muncul, Apakah dari pikiran atau dari tubuh? Agaknya, tak seorangpun yang bisa menjawabnya dengan pasti. Ada yang mengatakan tindakan dulu (tubuh), baru muncul emosi. Ada pula yang mengatakan  emosi dulu (pikiran), baru muncul tindakan. Kita tidak mungkin memisahkan tindakan dan emosi, karena keduanya merupakan bagian dari keseluruhan. Meskipun begitu, ada prinsip yang bisa kita pegang, yaitu emosi akan menjadi semakin kuat bila diberi ekspresi fisik (Wedge, 1995). Misalkan saja, bila seseorang marah, lantas mengepalkan tinju, memaki-maki dan membentak-bentak, dia tidak mengurangi rasa amarahnya, tetapi justru kian menjadi marah. Sebaliknyanya, bila ia menghadapinya dengan cukupp santai, dan berupaya mengendorkan otot-ototnya yang tegang, kemarahannya akan segera reda. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gangguan emosional tidak akan timbul, apabila orang dalam keadaan sepenuhnya santai.

Goleman menjelaskan kecerdasan emosi didefinisikan dalam empat dimensi yaitu:

  • Self-awareness yaitu kemampuan manusia untuk secara akuratmemahami diri sendiri dan tetap sadar terhadap emosi diri ketika emosimuncul, termasuk tetap mempertahankan cara manusia dapat merespons situasi tertentu dan orang-orang tertentu di dalamnyaterdapat kesadaran emosi (emotional awareness), penilaian diri yang akurat (accurate self-assessment), dan kepercayaan diri (self confidence)
  •  Social Awareness, adalah kemampuan manusia untuk secara tepat menangkap emosi orang lain dan mengerti apa yang benar-benar terjadi,dapat diartikan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan walaupun tidak merasakan yang sama, di dalamnya terdapat: empati, orientasi pelayanan (service orientation), kesadaran berorganisasi (organizational awareness)
  • Self Managemen , adalah kemampuan untuk menggunakan kesadaran emosi manusia untuk tetap fleksibel dan secara positif mengarahkanperilaku diri manusia itu sendiri, yang berarti mengelola reaksi emosimanusia itu sendiri kepada semua orang dan situasi, di dalamnya terdapat: kontrol emosi diri (emotional self-control), dapat dipercaya (trustworthiness), teliti (conscientiousness), kemampuan beradaptasi (adaptability), dorongan berprestasi (achievement drive), inisiatif
  •  Relationship Management, kemampuan untuk menggunakan kesadaran emosi manusia dan emosi orang lain untuk mengelola interaksi yang berhasil, termasuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif untuk mengatasi konflik, yang didalamnya terdapat memajukan orang lain (developing others), dapat mempengaruhi (influence), komunikasi (communication), manajemen konflik (conflict management), dapat memimpin (visionary leadership), catalyzing change, membangun ikatan (building bonds), kerjasama dan berkolaborasi (teamwork and collaboration).

Dari berbagai literatur, saya menemukan lima dasar kecerdasan emosional, yaitu :

  • Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam hidup   Anda.
  •  Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
  •  Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
  •  Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang mereka rasakan.
  • Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat.

Dari hasil penelitiannya, John B. Watson (dalam Mahmud, 1990) menemukan bahwa tingkah laku emosional dibagi menjadi empat, yaitu :

  1. Takut

seryt

Pada dasarnya, rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang timbul karena anak kecil yang sering ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan di rumah. Akan tetapi, ada juga rasa takut naluriah yang terpendam dalam hati sanubari setiap insan, seperti, rasa takut akan kegelapan, takut berada di tempat sepi tanpa teman atau yang lainnya. 

      2. Marah

sabil

Pada umumnya, luapan kemarahan lebih sering terlihat ketimbang rasa takut.kemarahan selalu kita lihat berhubungan dengan keadaan tertentu.kemarahan bisa juga timbul  sehubungan dengan keadaan yang sebetulnya tidak lazim untuk menimbulkan kemarahan. Kemarahan  merupakan emosi yang amat sukar untuk menerima dan mengungkapkannya. Rasa marah menunjukkan bahwa perasaan kita tersinggung oleh sesesorang. Pada waktu kita tidak mau mengakui perasaan marah atau tidak mau mengungkapkannya, perasaan marah itu menggumpal atau berkumpul.

      3. Cinta

rewgh

Apakah cinta ? sesungguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus mendefinisikan ikhwal kebahagiaan. Cinta kasih adalah Ibarat fundamen pendidikan secara keseluruhan tanpa curahan kasih pendidikan yang        ideal tidak mungkin bisa dijalankan. Cinta merupakan emosi yang membawa kebahagiaan yang terbesar dan perasaan puas yang sangat dalam.Sekarang ini banyak teori muncul untuk mencoba menjelaskan sebab musabab gangguan emosional. Teori-teori tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: lingkungan, afektif, dan kognitif (hauck, 1967).

A.    Teori Lingkungan

Teori lingkungan ini menganggap bahwa penyakit mental diakibatkan oleh berbagai kejadian yang menyebabkan timbulnya stres. Pandangan tersebut beranggapan bahwa kejadian ini sendiri adalah penyebab langsung dari ketegangan emosi. Teori ini sama sekali tidak bisa menjelaskan mengapa pada suatu waktu kejadian tertentu membawa kesedihan, tetapi tidak demikian pada saat lain. Atau, mengapa seseorang bisa bersikap sangat tenang  terhadap kejadian yang tidak menguntungkan, sedangkan orang lain bila berhadapan dengan kejadian yang sama akan mengalami kecemasan.

B.  Teori Afektif

Pandangan professional yang paling luas dianut mengenai gangguan mental adaalah pandangan yang berusaha menemukan pengalaman emosional bawah sadar yang dialami seorang anak bermasalah dan kemudian membawa ingatan yang di lupakan dan ditakuti ini ke alam sadar, sehingga dapat dilihat dari sudut yang lebih realistik.

C. Teori Kognitif

Sekarang ini,hanya satu teori  kognitif utama yang patut dibicarakan, yakni”Psikoterapi Rasional Emotif” yang di temukan oleh Albert Ellis (1962). Menurut teori ini, penderitaan mental tidak disebabkan langsung oleh masalah kita atau perasaan bawah sadar kita akan masalah tersebut, melainkan dari pendapat yang salah dan irasional, yang disadari maupun tidk disadari akan masalah-masalah yang kita hadapi.

 

                                      DAFTAR PUSTAKA

 Daniel S, Roger, Keajaiban Emosi Manusia, Think, Yogyakarta, 2008

http://id.wikipedia.org/wiki/kecerdasan emosional

Semmel, Albin, Rochelle, Emosi Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya Kenisius, Yogyakarta,1986                                                    

Sobur, Alex, Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung, 2010

http://en.wikipedia.org/wiki/personality psychology

gfyv